Posted in Daily Pieces

Taiwan 101 #3 I’m So Powerless

Tulisan kali ini disponsori oleh IG story-nya Ana.

Membaca ini dan entah kenapa teringat awal-awal tinggal di Taiwan. Sebelum berangkat, saya merasa cukup percaya diri tentang bahasa. Saya pikir, bahasa Inggris saya nggak jelek-jelek amat dan selama ini saya cukup cepat dalam belajar bahasa. Seiring berjalannya waktu, saya bisa belajar bahasa lokal. Bisa lah, ya, survive di sana. Setelah sampai di Taiwan, hahaha…realita ternyata sungguh berbeda.

Bulan-bulan awal di Taiwan, saya masih cukup cuek. Tanpa paham bahasa Cina apapun kecuali ni hao dan xie xie, saya bisa survive. Hidup saya baik-baik saja.

Hingga suatu ketika saya menghadiri acara di Taipei Main Station (TMS). Tiba waktu shalat, saya pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Waktu itu kamar mandi sedang ramai sekali, sampai ada antrian cukup panjang untuk masuk. Tiba giliran saya, saya langsung menuju wastafel. Di tengah-tengah wudhu, tiba-tiba ibu-ibu bagian kebersihan masuk, melihat saya, dan langsung ngomel-ngomel dalam bahasa Cina yang seratus persen saya nggak paham artinya apa. Yang pasti dia nggak bilang ni hao dan xie xie.

Pada saat itu, saya cuma bisa terdiam, buru-buru menyelesaikan wudhu kemudian ngeloyor pergi setelah mengucapkan I’m sorry setengah hati.

Continue reading “Taiwan 101 #3 I’m So Powerless”

Advertisements
Posted in Daily Pieces, Random Thoughts

Mengingat Kembali Yang Benar-benar Penting

Kemarin, pemilik salah satu akun Instagram yang saya ikuti melangsungkan pernikahan (yang follow Ibook dan Bulek Hana pasti paham). Ikut senang, dan ikut kepo foto-foto serta cerita proses bahagia beliau berdua selama beberapa hari, yang berujung scroll foto-foto serta story di akun beliau. Lalu termenung membaca beberapa caption-nya. Ada dua yang paling saya ingat.

Yang pertama, Bulek Hana bercerita, sudah menyampaikan kepada ibunya ingin memakai baju warna apa kalau dia nanti menikah, sejak entah berapa tahun lalu. Satu hal yang dia wujudkan di hari pernikahannya. Yang kedua, tentang niat. Saya lupa ini siapa yang posting, tapi ada nasihat tentang meluruskan niat ketika menikah. Kedua hal ini, setidaknya, punya satu kesamaan bagi saya. Pengingat bagi saya untuk mengingat kembali hal-hal yang benar-benar penting.

Warna baju apa yang ingin dikenakan, prosesi seperti apa yang ingin dijalankan; saya yakin banyak orang sudah memiliki bayangan atau rencana mengenai hal tersebut. Tapi pada kenyataannya, di tengah segala kesibukan mempersiapkan acara pernikahan, di antara banyak permintaan dan harapan dari kedua belah keluarga, terkadang hal sesederhana warna baju impian bisa terlupakan. Maka penting rupanya tidak hanya merencanakan, namun juga mengondisikan terwujudnya rencana itu, seperti halnya yang Bulek lakukan dengan menyampaikan ke ibu beliau.

Mengenai niat, ah..yang ini saudara-saudara, menancap dalam sekali di hati. Karena sungguh, menurut saya, salah satu hal paling berat adalah meluruskan kembali niat. Tidak hanya sebelum pernikahan, tidak hanya saat ijab kabul diucapkan, namun sepanjang perjalanan hidup yang diarungi berdua. Sungguh mudah meniatkan sesuatu di awal, namun untuk tetap mengingatnya, untuk tetap menjaganya, dan tetap berusaha mewujudkannya di tengah hiruk-pikuk kehidupan berumah tangga sungguhlah suatu tantangan yang nyata. Terlalu banyak godaan dan pasang-surut kejadian yang bisa membuat kita dengan mudahnya berkompromi atau bahkan melupakan niat di awal.

Maka momen pernikahan Bulek Hana ini, bagi saya pribadi, menjadi momen untuk mengingat kembali apa hal-hal yang sejatinya sungguh berarti dan penting bagi saya. Luruskan niat. Pahami kembali apa tujuan menjadi seorang pribadi, menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu. Pahami kembali arti pernikahan dan hidup. Semoga bisa menjadi bekal dalam mengarungi kembali sibuknya hari.

 

 

Taipei, 5 Juli 2018

Posted in Daily Pieces, Random Thoughts

Taiwan 101 #2 Lebaran Yang Tak Biasa

Lebaran tahun ini bisa dibilang Lebaran yang paling tidak terasa Lebaran.

Lebaran kedua di Taiwan, ekspektasi awalnya adalah sama seperti Lebaran tahun sebelumnya. Shalat Id di Taipei Grand Mosque, lalu ke KDEI untuk silaturahim dan makan-makan masakan Indonesia. Qadarullah, Si Kecil jatuh sakit di hari terakhir Ramadhan. Sudahlah, bubar jalan rencana Lebaran kami.

Tak ada shalat Id karena saya stay di rumah bersama Naya, hanya suami yang berangkat ke TGM. Tak ada kumpul-kumpul salam-salaman setelah shalat. Pun tak ada makan opor pengobat rindu rumah. Jangan tanya mudik, arisan keluarga, atau makanan beraneka rupa yang setia menemani jika Idul Fitri di Indonesia. Sudah kami ikhlaskan sejak berangkat ke Taiwan. Walau kadang masih ngenes juga saat melihat foto-foto yang berseliweran di media sosial. #curhat

Di tengah semua kondisi tersebut, saya menyadari satu hal. Bahwa banyak sekali makna yang terangkum dalam sebuah kata Idul Fitri. Hal-hal yang sadar ataupun tidak, sering kita anggap begitu wajar terjadi. Taken for granted. Hal-hal seperti kesempatan untuk mudik, berkumpul dengan keluarga, dan makan makanan aneka rasa, bisa jadi kita sadari sungguh berharga tanpa harus jauh-jauh merantau atau tinggal di luar Indonesia. Tapi sejatinya, kesempatan sederhana untuk shalat Idul Fitri sendiri ternyata satu hal yang amat patut kita syukuri. Betapa banyak kemudahan yang Allah berikan setiap tahunnya bagi kita untuk melaksanakan shalat Id, dengan nyaman, dengan tentram, dengan tenang. Dan betapa banyak sesungguhnya saudara-saudara kita yang tidak bisa merasakan nikmat shalat hari raya ini karena berbagai alasan. Maka sungguh, alangkah sayangnya jika perayaan Idul Fitri sangat kita rindukan tanpa kita mampu menghadirkan ketundukan yang dalam di setiap sujud dan takbir shalat Id kita. Karena inilah perayaan yang sesungguhnya: bahwa Allah telah mengamanahkan iman dan Islam sehingga kita hari ini, pada saat ini, bisa bersujud pada-Nya, mengagungkan nama-Nya bersama saudara-saudara kita dalam hikmah hari raya.

Sambil menggendong Naya yang demam tinggi, saya berterima kasih. Mungkin Allah ingin saya merasakan Lebaran yang tak biasa kali ini, agar saya belajar kembali apa arti Idul Fitri.

 

 

Taipei, 18 Juni 2018

 

Posted in Daily Pieces

Tentang Menulis (Lagi)

Sejujurnya saya tidak pernah membayangkan akan ada di posisi saat ini, dimana blog saya kosong selama berbulan-bulan dan saya hampir tidak pernah menulis lagi. But here I am.

Banyak draft tulisan yang ada di balik blog ini, namun tak satupun selesai dan di-post. Alasannya?
Mudah saja jika saya berkata saya tidak punya waktu. Setelah menikah dan punya anak, nampaknya memang prioritas penggunaan waktu jadi bergeser drastis. Namun sebenarnya, alasan yang lebih tepat bukannya tidak sempat, tapi tidak disempatkan. Ketika menulis bisa memakan waktu luang yang sudah sedikit, saya memilih untuk mencari hiburan yang lebih mudah diakses. Main HP, misalnya. But it’s just a temporary highs.

Dan pada akhirnya kita harus memilih.
*eaaa..nggak pakai nyanyi ya, bacanya

Alasan kedua, sebenarnya cukup pribadi.
Menulis, bagi saya berarti banyak hal. Self-therapy, juga sarana berbagi. Namun menulis juga berarti kesiapan untuk membuka diri, membuka pikiran dan perasaan kepada pihak luar; sesuatu yang saya hindari tiga tahun terakhir karena beberapa hal.

Membuka diri lagi berarti saya harus siap membagi hal-hal dalam hidup saya. Dan hal ini berlaku tidak hanya untuk hal-hal baik, namun juga buruk. Siap menerima judgment orang lain. Dan yang paling berat bagi saya..siap untuk merusak image diri sendiri.

Karena mau tidak mau diakui, setiap orang punya image yang dia pertahankan mengenai dirinya. Mau menerima kondisi dimana orang lain beranggapan lain, ternyata tidak mudah. Bahwa kita tidak sebaik yang orang sangka, bahwa hidup kita ternyata tidak baik-baik saja; hal-hal yang sekilas tampaknya wajar saja untuk dilakukan, ternyata punya konsekuensi mental yang besar.

So, here I am.

Belajar kembali untuk menulis.

Semoga perjalanan kali ini lebih bermakna dari sebelumnya. =)

 

 

Taipei, 1 Juni 2018/16 Ramadhan 1439 H

 

Posted in Daily Pieces

Menulis

Yang paling mengerikan bagi seorang penulis adalah
ketika suatu hari, engkau menyadari
bahwa kata-kata tak lagi sudi hinggap di jari-jemari
bahwa rima tak lagi mengalir dari dalam diri
dan hujan serta desiran angin terpandang selayaknya benda mati

Bahwa waktumu telah terhenti

 

 

Taipei, 5 Februari 2018