Posted in Daily Pieces

Dimensi Ini, Ruang Hidup Saya

Berkat salah seorang sahabat saya, dua minggu yang lalu malam-malam saya ngebut naik motor ke salah satu hotel di Jalan Soekarno Hatta. Alkisah, dia bersama rombongan teman-teman jurusannya melakukan kunjungan industri ke Bandung dan Jakarta. Hanya dengan satu SMS mengabarkan dia menginap dimana, dia mengirim saya hingga daerah Cibaduyut, mengikuti jejaknya yang ternyata sedang JJM (Jalan-jalan Malam) mencari oleh-oleh.

Saya tak perlu membahas kenapa saya rela melakukan itu. Jelas, dia sahabat baik saya. Yang saya renungi malam itu, adalah betapa sempitnya ruang hidup saya sampai saat ini.

Ketika saya akan menyusulnya ke Cibaduyut, saya harus bertanya dulu ke Bapak Satpam hotel, Cibaduyut itu arahnya kemana. Dan ternyata, cuma beberapa kilometer dari kampus saya. Saya sama sekali tidak tahu. Saat itu, saya semakin menyadari satu hal yang, sebenarnya, sudah saya sadari sejak lama. Saya kurang meng-explore hidup saya. Tiga tahun di Bandung, saya belum pernah ke Gedung Sate, Gasibu, atau Sabuga. Menyedihkan? Memang.

Bukan masalah apakah saya pernah jalan-jalan atau bagaimana. Saya lebih mencermati ketidakmampuan, atau mungkin lebih tepatnya ketidakmauan, saya dalam melihat suatu hal secara mendalam dan menyeluruh. Ditambah sikap selfish dan kecuekan saya yang rasa-rasanya makin lama makin akut. Hasilnya? Ya tadi, hidup jadi terasa sangat tidak imbang akhir-akhir ini.

Ketika saya lulus D3, saya mulai melihat kembali ke belakang, dan menyadari betapa banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan tapi tidak saya lakukan. Betapa banyaknya hal yang ingin saya lakukan dan ternyata tidak saya lakukan. Dan saya terpaksa menghela nafas. Saya melakukan kesalahan yang sama yang telah saya perbuat saat SMP dan SMA.

Teringat kata-kata seorang senior lab saya ketika saya iseng minta dipsikoanalisis. Dia bilang, potensi saya besar, dan banyak. Tapi saya sama sekali tidak memaksimalkan potensi-potensi itu. Useless, jadinya. Hanya akan menjadi tumpukan kemampuan yang tak pernah diasah.

Saya jadi agak menyalahkan diri sendiri. Kenapa?
Saya ingin hidup saya penuh, saya ingin merasakan berbagai macam hal, merasakan berbagai macam pengalaman, punya kemampuan yang saya andalkan. Saya ingin ketika nanti saya dipanggil, saya bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa saya tidak menyia-nyiakan hidup yang telah Tuhan saya beri.

Jangan salah, saya bahagia. Hidup saya luar biasa. Saya diberikan kesempatan untuk merasakan banyak pengalaman: akademis, kepanitiaan, organisasi, laboratorium. Saya diberikan kesempatan untuk bertemu berbagai macam orang. Saya dianugerahi orang-orang dekat yang subhanallah baiknya.

Tapi saya ingin lebih. Hingga hidup saya penuh.

Terdengar serakah? Mungkin.

Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup saya singkat. Dan saya tidak mau merasakan kekecewaan seperti ini lagi dan lagi. Saya ingin sebelum hidup saya berakhir, saya bisa melengkapi kepingan puzzle hidup saya sebanyak mungkin. Walaupun pada akhirnya mungkin tak bisa menjadi satu gambar utuh, setidaknya ia akan merepresentasikan hidup macam apa yang telah saya jalani. Saya ingin mengakhiri hidup saya seperti itu.

Tinggal bagaimana saya menyeimbangkan keterbatasan kemampuan dan waktu saya sebagai manusia dengan keinginan saya yang agak gila itu. Yang lebih sulit, mungkin merubah sikap dan mindset diri yang sudah terlanjur mengurat akar. Tantangan besar bagi saya pribadi.
Semoga tidak sekedar keinginan besar yang pupus di tengah jalan.

Bandung, 31 Juli 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s