Posted in Daily Pieces

Catatan Tengah Liburan

Saya merasakan desakan untuk menulis, mungkin karena asupan bacaan yang cukup terjamin hari-hari ini. Tak seperti waktu-waktu kuliah dimana saya tak sempat membaca buku, atau mungkin tak menyempatkan diri. Liburan ini terasa lebih “saya” karena satu hal itu: waktu membaca yang luar biasa terasa nikmatnya. Nikmat karena dilakukan di rumah, nikmat karena tak terganggu tugas-tugas kuliah dan tuntutan-tuntutan deadline lainnya, nikmat karena lama tak merasa waktu seperti ini. Waktu dimana saya bisa membenamkan diri dalam dunia saya sendiri, jauh menjangkau sudut-sudut pikiran.

Liburan kali ini, entah kenapa membuat saya seolah kembali ke diri saya dulu. Sangat reflektif. Waktu liburan yang relatif lama memberi saya cukup waktu untuk menelusuri kotak-kotak pikiran, menjangkau dan meninjau lagi sisi-sisi yang, ternyata, selama tiga tahun ini sudah dengan sukses saya pinggirkan atas nama adaptasi atau apapunlah itu. Salah satunya waktu membaca itu. Baru tersadarkan kembali, baru benar-benar merasakan lagi betapa besar kebutuhan saya akan dunia pemikiran dan perenungan itu. Pantas saya sering (bahasa kerennya) galau dan pusing sendiri ketika ada masalah. Saya tak memberi diri saya sendiri cukup waktu dan amunisi untuk menyelesaikannya.

Tersadarkan akan satu prinsip lagi, untuk memandang semua hal dari segala sisi. Prinsip yang rasa-rasanya saya kubur dengan sengaja. Alibi kalau saya katakan tidak sempat melakukannya. Lebih bohong lagi kalau bilang prinsip itu sudah tidak berguna. Entahlah, mungkin semata-mata karena kesombongan saya. Sombong karena merasa banyak pengalaman; sombong karena terbiasa dibenarkan dan dianggap benar; sombong karena Allah sudah menitipkan begitu banyak kebahagiaan. Sombong karena terlena dan tidak segera sadar bahwa setiap kebahagiaan yang Ia berikan sejatinya bentuk lain dari ujian.

Waktu-waktu ini memberi saya kesempatan untuk melihat kembali sikap dan kebijakan yang telah dan akan saya ambil, baik sebagai pribadi maupun dalam kaitannya dengan amanah yang sekarang dititipkan di bahu saya. Melihat kembali pola hubungan saya dengan manusia, dalam berbagai tatarannya. Menertawakan kekacauan yang saya buat baik sebagai pemimpin dan orang yang dipimpin. Cukup banyak lah, tamparan-tamparan kecil yang saya terima dua minggu ini. Cukup untuk membuat saya menertawakan diri sendiri. Cukup untuk membuat saya mempertanyakan kelayakan saya menjalankan semua amanah ini.

Cukup untuk membuat saya bertanya kepada diri sendiri, saya ngapain aja selama ini.

Liburan ini, juga kesempatan saya menebalkan kembali dinding introvert saya. Bukan, bukan karena saya tak nyaman dengan dunia. Tapi karena saya jadi terlalu terbiasa dengan ke-extrovert-an manusia, sehingga sering terlupa. Banyak efeknya, positif maupun negatif. Bukan salah dunia dan manusia di sekeliling saya, sungguh bukan. Hanya semata-mata karena saya serakah, tak pandai mengingatkan diri sendiri sehingga mereguknya banyak-banyak. Padahal yang berlebihan tak pernah baik.

Bersyukur, bersyukur sekali bulan Ramadhan ini bertepatan dengan liburan. Lebih banyak waktu untuk muhasabah. Dan ternyata, banyak PR untuk saya.

Sidoarjo, 16 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s