Posted in Daily Pieces

Melodi Malam Hantaran Hujan

Hujan.
Nuansa yang selalu menimbulkan melankoli tersendiri. Entah kenapa.

Sebagai alibi untuk rehat sejenak dari soal-soal Varkom, saya menikmati desiran tetes hujan di luar jendela kamar. Mendadak merindukan kamar saya di Asrama Putri, dimana saya biasa duduk manis di depan jendela, memandang tetes-tetes air hujan membentuk kabut tipis di kaca. Menikmati kerlip lampu di daerah Dago yang kala itu terasa jauh sekali. Lalu mendadak merindukan rumah. Selalu, selalu begitu.

Seperti semua makna yang dibawa hujan bersamanya, begitu banyak kejap pikiran yang tersintesa ketika memandang hujan. Atau minimal mendengar suara tetesan airnya.

Dan selalu ada rindu.
Untuk Ibu, untuk Ayah, untuk Kakak; untuk keluarga yang nun jauh di sana.
Untuk sahabat-sahabat yang telah menapak di jalan hidup masing-masing. Kadang tak bersisian, namun selalu di pikiran.
Untuk keping-keping yang kadang ingin tergenggam sampai akhir namun harus dilepaskan.

Lalu sejenak hening membekap.
Seperti dingin yang mengambang setelah hujan reda.
Bersih, menenangkan. Melegakan.
Mengentas resah-resah pikiran.

Mengukuhkan satu lagi rasa cinta;
cinta-Nya pada kita.
Seperti hujan yang tak pernah berhenti membasahi;
merasuk tanah dan membelah udara.
Mengalirkan kehidupan.

Membekukan hati pada satu bening nadi.

Bandung, 27 Oktober 2011
Kutitipkan rindu ini pada udara,
semoga ia mendekap kalian; mesra

Advertisements

2 thoughts on “Melodi Malam Hantaran Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s