Posted in Books

The Hunger Games

Judul: The Hunger Games
Pengarang: Suzanne Collins
Terbit: Oktober 2009
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman:  408

Panem, sebuah negara yang berdiri di bekas wilayah Amerika Utara yang musnah karena perang. Ibu kota Panem, Capitol, adalah pusat segala kemegahan sementara 12 distrik yang mengelilinginya berada dalam kondisi bervariasi. Katniss Everdeen, seorang gadis yatim berusia 16 tahun, tinggal di Distrik 12 bersama ibu dan adik perempuannya, Prim.

Pemberontakan yang pernah terjadi di Panem mengakibatkan dua hal: dimusnahkannya Distrik 13 oleh Capitol, dan diadakannya The Hunger Games. Setiap tahun masing-masing distrik mengirimkan sepasang anak laki-laki dan perempuan untuk bertarung sampai mati, dengan hanya satu orang yang akan keluar sebagai pemenang.

Kehidupan Katniss yang selalu berkutat pada bagaimana mencari makanan untuk keluarganya berubah saat nama adiknya terpilih sebagai peserta. Katniss mengajukan diri untuk menggantikan Prim, tidak menyadari kehidupan macam apa yang akan dia hadapi di luar Distrik 12.

Cukup lama saya melirik buku ini di toko buku langganan, sejak beberapa bulan lalu. Namun atas beberapa pertimbangan, beberapa kali pula saya batal membelinya. Saat pemberitaan mengenai filmnya mulai booming, baru saya tertarik lagi untuk membacanya. And it’s worth it.

Bagi saya pribadi, daya tarik utama buku ini bukan pada alur cerita atau cara tuturnya. Harry Potter atau serial Percy Jackson nampaknya lebih menggigit dalam dua aspek tersebut. Daya tarik terbesar buku ini bagi saya adalah karakter Katniss sendiri. Saya terkesan pada cara penulis menampilkan sosok Katniss. Bagaimana gadis 16 tahun yang keras, cerdik, dan licik ini bisa pembaca terima dengan wajar. Bagaimana pikiran-pikiran gelap Katniss bisa terasa begitu normal dalam situasi yang disuguhkan. Walau harus saya akui, setting cerita THG sendiri tidak bisa disebut situasi normal.

Adegan-adegan seru saat Katniss menjalani THG punya andil besar dalam membuat saya betah membaca buku ini dalam sekali jalan. Twisted story dan penggambaran karakter-karakter lain yang Katniss temui membuat pembaca melihat sudut-sudut lain dari sang tokoh utama, juga dari The Hunger Games sendiri.

Dan saya, mau tak mau, jadi ikut bertanya-tanya ketika halaman terakhir buku ini selesai saya baca: bagaimana Capitol menyikapi pilihan Katniss? Bagaimana hubungannya dengan Peeta dan Gale? Bagaimana The Hunger Games tahun berikutnya?

Bandung, 21 April 2012

Advertisements

One thought on “The Hunger Games

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s