Posted in Daily Pieces

Tak Ada Sate, Lontong Padang Pun Jadi

26 Oktober 2012, bertepatan dengan Idul Adha 1433 H. Ini adalah Idul Adha ke-5 saya di Bandung. Sedih? Nggak juga, sudah biasa. #soktegar

Hehe, anyway, Idul Adha kali ini buat saya spesial. Kenapa?
Karena saya bisa makan lontong padang dua kali dalam sehari. Kok bisa?

Jadi saudara-saudara, di hari Idul Adha nan bahagia kemarin, beberapa orang teman saya menginisiasi acara makan bersama setelah shalat Idul Adha. Temanya, dari kami, oleh kami, untuk kami. Iya, harfiah, karena kami yang belanja, kami yang memasak, kami juga yang makan ramai-ramai. Saya, kebetulan cuma partisipan bagian terakhir saja, ditambah cuci piring, hehehe.

Setelah Shalat Id selesai dilakukan, puas bersalam-salaman, berbagai pose foto sudah dikeluarkan, saya langsung diculik Ilmi Pertiwi menemani beliau mengambil pesanan lontong untuk acara makan bersama. Tapi sebelumnya, kami mampir dulu di kosan beliau. Ternyata tak sekedar mampir, saya kecipratan rezeki sepiring lontong padang karena seisi Wisma didaulat makan bersama. Alhamdulillah..

Perjalanan kami lanjutkan ke Pasar Dayeuh Kolot, kemudian ke tempat acara dilangsungkan. Ternyata eh ternyata, si Lontong Padang muncul lagi di daftar menu. Jadilah, baru jam 10 pagi saya sudah menikmati dua porsi makanan ini. Ditemani celoteh dari teman-teman, adik-adik, dan kakak-kakak yang duduk berdampingan, riuh bercanda dan mengobrol.

Maka hari itu, bagi saya terasa seperti Idul Adha pertama saya di kampus ini, ketika malam takbiran saya lewatkan dengan rapat kepanitiaan pertama saya. Ketika di hari Idul Adha saya bersalaman dengan orang-orang yang berlainan orang tua dan keluarga namun dengan mesranya memanggil saya saudara. Ketika saya menggenggam tangan-tangan mereka, erat, dan bersyukur saya ditakdirkan ada di kampus ini.

Di tengah wajah-wajah yang berlainan angkatan dan jurusan di ruangan itu, saya bersyukur.
Bersyukur bahwa kami dipertemukan di sini.
Bersyukur bahwa saya dikelilingi mereka yang begitu peduli.
Bersyukur bisa melewatkan Idul Adha bersama keluarga, yang bukan hanya terikat atas dasar hubungan darah.
Bersyukur, bahwa Allah masih mengizinkan kami meluangkan waktu untuk berkumpul seperti saat ini.

Maka lontaran pertanyaan iseng tahun depan akan ber-Idul Adha dengan siapa membuat saya tertegun sejenak. Ah, tahun depan, kami mungkin sudah menapaki jalan masing-masing. Entah siapa akan ada dimana. Terbersit, akankah bisa memiliki waktu bersama mereka seperti ini lagi. Bisa memandang wajah-wajah mereka lagi.

Hari itu, saya bersyukur, saya berkesempatan melewatkan empat tahun saya di sini bersama mereka.

Bandung, 27 Oktober 2012
Eid Adha Mubarak! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s