Posted in Books

Bumi Manusia: Sebuah Kritik Sosial

Bumi ManusiaBumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, tak diragukan merupakan sebuah kritik sosial tertulis yang lengkap. Buku ini begitu padat; membacanya hampir terasa seperti serbuan pemikiran yang berdesak-desakan dalam otak. Dan tetap, Pram berhasil mempertahankan alur cerita sebagai sebuah roman historikal.

Secara sederhana, pemikiran yang disampaikan dalam buku ini terbagi atas tiga tataran konflik: di dalam tokohnya sendiri, antar tokoh, dan lingkungan.

Konflik pribadi tokoh diwakili dengan jelas oleh Minke dan Nyai Ontosoroh. Pada sosok seorang pemuda bernama Minke, kita dapati konflik kebudayaan. Bagaimana Minke yang merupakan priyayi Jawa, justru menghujat habis-habisan beberapa budaya Jawa yang dia anggap berlebihan dan tidak perlu. Besar dalam lingkungan pendidikan Belanda, kiblat pemikirannya adalah Eropa. Segala yang Eropa adalah baik. Dari pemuda ini, kita belajar satu kenyataan mengenai masyarakat Jawa: terkadang adat-istiadat dijunjung lebih tinggi daripada seorang pribadi sendiri.

Nyai Ontosoroh, di sisi lain, adalah potret luka seorang perempuan di zaman Belanda. Jalan hidupnya merupakan etalase yang disediakan Pram bagi pembaca untuk menjenguk realita. Perbudakan, ketamakan akan kekuasaan yang didapat dari penjajah, serta sistem kasta yang dengan jelas membedakan perlakuan bagi orang Eropa, Indo, dan pribumi, menjadi tali-temali yang mengikat hidup perempuan ini. Sosok Nyai yang begitu berkuasa dan terpelajar juga dapat dilihat sebagai harapan, atau manifestasi kekecewaan, penulis atas perilaku perempuan Indonesia pada zaman itu. Melalui Nyai Ontosoroh, Pram menyerukan bahwa perempuan bangsanya juga bisa, juga harus, maju dan berkembang. Bahwa perempuan bisa menjadi begitu kuat.

Konflik antar tokoh rasanya tak berhenti muncul di sepanjang cerita. Konflik-konflik ini pula  yang menjadi senjata utama penulis memainkan alur serta naik-turunnya emosi dalam roman ini. Minke, nampaknya, dituliskan sebagai tokoh yang berada di tengah segala pusaran konflik sekaligus tokoh ketiga yang mengamati berlangsungnya segala hal dari luar.

Permasalahan internal keluarga dipaparkan melalui keluarga Nyai Ontosoroh yang merupakan keluarga campuran: bapak Belanda murni, anak-anak campuran, dan ibu pribumi asli. Konflik kepentingan dan identitas pekat melanda keluarga ini. Keluarga Minke mewakili potret keluarga Jawa asli dengan segala macam pernak-perniknya.

Kedua tataran konflik di atas dengan cerdasnya merupakan bagian dari konflik-konflik lingkungan yang disoroti penulis. Latar belakang sosial, budaya, serta politik abad ke-18 di Indonesia kental mewarnai roman ini. Masa penjajahan Belanda dipandang dalam dua sisi: positif dan negatif.

Pendidikan, walau terbatas pada kalangan priyayi, tak diingkari merupakan jalan pembuka pikiran dan bagian penting bagi kebangkitan pemuda Indonesia kala itu. Digambarkan pula mengenai pemikiran-pemikiran politik dan propaganda baik di dalam Indonesia maupun di Eropa yang mulai berpihak pada Indonesia. Selain itu, fasilitas-fasilitas yang dibawa Belanda menjadi sarana korespondesi Indonesia dengan dunia luar, dan oleh karena itu, memungkinkan adanya dukungan dan masukan bagi Indonesia. Hingga hari ini pun kita dapati bahwa hukum dan perundang-undangan di negeri ini masih kental berlandaskan hukum Belanda.

Dalam roman ini diceritakan pula mengenai berkurangnya perebutan kekuasaan antar penguasa di tanah Jawa dan ketentraman yang berlangsung sejak Belanda berada di Hindia. Namun kedua hal ini terbukti bersifat semu. Penguasa dan masyarakat sejatinya tetap berebut kekuasaan, berlomba-lomba menjilat kalangan pemerintah Belanda yang notabene penjajah di tanah mereka sendiri. Ketentraman yang ada berlangsung karena ketidakberdayaan: masyarakat yang tidak berpendidikan, tidak bersenjata, dan terus-menerus dibuat percaya bahwa status mereka lebih rendah.

Kebijakan hukum yang digambarkan dalam Bumi Manusia pun dengan jelas membedakan ketiga kalangan yang ada di Hindia saat itu. Perlakuan untuk orang Eropa, keturunan mereka yang campuran, dan orang-orang pribumi sangatlah berbeda. Maka, di sini, penulis menyuarakan kontradiksi atas konsep “segala yang Eropa adalah baik” dengan kenyataan yang terjadi pada peradilan Annelies.

Penulis juga dengan apiknya mengilustrasikan tentang kekuatan media. Minke mendapatkan status sosial yang lebih tinggi dibanding teman-temannya di H.B.S. karena ia seorang penulis yang berbobot. Perang tulisan menjadi faktor penting pula dalam persidangan-persidangan Minke dan Annelies. Dengan gamblangnya penulis menggambarkan fakta bahwa tulisan adalah media propaganda paling ampuh dan dengannya seseorang bisa menggiring opini masyarakat. Karena tulisan, konflik pribadi dapat diubah menjadi konflik golongan, agama, bahkan bangsa. Melalui tulisan, seorang Minke menggalang dukungan dari berbagai kalangan sekaligus menghantam orang-orang yang menjelek-jelekkannya tanpa perlu beradu fisik.

Ditulis pada tahun 1975, Bumi Manusia menjadi sebuah jendela bagi kita untuk belajar tidak hanya tentang masa lalu namun juga masa sekarang. Belajar memahami bangsa sendiri, belajar bersyukur, dan belajar untuk memperbaiki. Konflik-konflik dan pemikiran yang dipadatkan dalam buku ini sejatinya tidak hanya torehan luka abad-abad yang telah lewat, namun masih kita dapati di sekitar kita saat ini.

Bandung, 5 November 2013

Advertisements

5 thoughts on “Bumi Manusia: Sebuah Kritik Sosial

  1. Penguasa dan masyarakat sejatinya tetap berebut kekuasaan, berlomba-lomba menjilat kalangan pemerintah Belanda yang notabene penjajah di tanah mereka sendiri. –>

    Analog juga dengan kenyataan sekarang. Hanya saja penjajah itu tak lagi berwujud orang Belanda. Tapi ‘saudara’ sebangsa sendiri.

  2. Thanks to write it. lebih oke mbak resensinya. aku nggak ahli nulis resensi. Terlalu banyak yang bermain dipikiranku. pengalaman intelektualitas yang menggebu githu deh. Lanjut Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah ma Rumah Kaca donk mbak. kece banget kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s