Posted in Daily Pieces

WBL: Sedikit Catatan Penasaran

Awal tahun kemarin saya sekeluarga minus Kakak sempat main sebentar ke keluarga Ayah di Lamongan. Sekedar info, jalan ke rumah Mbah itu melewati lokasi Wisata Bahari Lamongan, satu kecamatan. Ada yang tidak tahu ini apa? Yak, silakan Googling.

Melihat suasana di objek wisata ini, beberapa pikiran yang sedari dulu tersintesa mendadak muncul kembali. Menurut saya, WBL amat menarik untuk diamati, setidaknya karena beberapa hal yang menjadi akibat dari keberadaannya.

1. Pergerakan roda ekonomi

WBL hadir di Lamongan sembilan tahun lalu. Sebelum itu, lokasi ini memang sudah menjadi objek wisata bernama Pantai Tanjung Kodok. Yang penasaran dengan asal-usul namanya silakan Googling atau bertanya kepada warga Lamongan, ahaha.

Namun sebagai objek wisata, jangan bandingkan Pantai ini dengan WBL sekarang. Berbeda jauh, tentu saja. Kalau WBL dipenuhi wahana dan bangunan, Pantai Tanjung Kodok adalah objek wisata alami. Toko-toko pedagang yang berderet saat ini pun dulunya cuma beberapa kios kecil dengan dinding anyaman bambu.

Tapi di mana ada keramaian, di situ ada pedagang. Semacam ada gula ada semut, begitu, kan?

Maka saya saksikan sendiri, bagaimana kemudian jalanan kerikil berubah menjadi jalan aspal, dan kios-kios bambu digantikan toko-toko beton. Banyak usaha mulai bermunculan sejak WBL didirikan, mulai dari restoran hingga kedai makanan pinggir jalan, mulai dari toko oleh-oleh hingga usaha layanan parkir. Hingga waralaba minimarket macam Alfamart dan Indomaret pun ramai didirikan. Mata pencaharian warga yang dulu didominasi oleh nelayan dan pengolahan hasil laut pun ikur bergeser. Banyak pintu rezeki baru dan saya sadari masyarakat tidak gagap dalam menanggapinya. Masyarakat Lamongan, secara ekonomi, secara cepat beradaptasi dengan perubahan ini.

Satu hal yang saya masih penasaran hingga sekarang adalah, berapa persen dari penghasilan objek wisata ini yang masuk ke Pemerintah Daerah?

Tanpa tendensi apapun, saya tahu WBL dibangun oleh perusahaan gabungan Pemda dan swasta, saya pikir bukankah agak ironis ketika ternyata yang paling diuntungkan dari objek wisata suatu daerah bukanlah masyarakatnya tapi justru segelintir orang antah-berantah yang pernah berkunjung pun mungkin cuma beberapa kali saat inspeksi lokasi?

2. Pergeseran Nilai Sosial

Bagi saya, Lamongan itu kota religius, setidaknya di kecamatan tempat rumah Mbah. Banyak pesantren di sini, nilai-nilai Islamnya sangat kuat. Sepanjang yang bisa saya ingat sedari kecil, melihat perempuan di luar rumah tanpa jilbab adalah hal aneh. Bukan saja yang dewasa, tapi juga anak-anak setingkat sekolah dasar.

Maka bayangkan perasaan saya ketika suatu ketika saya mampir ke minimarket di sebelah rumah Mbah, kebetulan saat itu ada satu keluarga yang nampaknya selesai berwisata sedang belanja di sana, dan anak perempuannya dengan santai mengenakan hot pants. Bagi saya, itu…wow. Pakai tanda kutip.

Lupakan pergaulan Bandung dan Surabaya. Saya temukan itu di sini, di sudut sebuah kota yang bagi saya bersih dari pemandangan tak semestinya bagi mata. Maka saat itu saya sadar, inilah salah satu harga yang harus dibayar oleh kota ini.

Pergeseran nilai ini bisa jadi memiliki akibat yang signifikan jika tidak ditanggapi dengan baik sedari sekarang. Ketika orang tua-orang tua beranjak senja, yang tertinggal adalah generasi muda yang sedikit banyak sudah menjalani masa berbeda. Identitas keagamaan, adat, dan budaya, akankah masih cukup kuat saat mereka yang harus menjalankan roda kemasyarakatan? Atau justru luntur tergerus arus zaman?

3. Kemiskinan atau Pekerjaan?

Salah satu hal yang paling menarik ketika saya melewati WBL kemarin bukanlah banyaknya jumlah kendaraan yang memadati area, tapi jumlah pengemis di sepanjang trotoar WBL. Trotoarnya sendiri mungkin cuma beberapa puluh meter, tapi saya dapati ada lebih dari lima pengemis di sana.

Ini, lagi-lagi, adalah hal yang wow-pakai-tanda-kutip bagi saya. Seingat saya, dulu saya tidak pernah melihat pengemis atau anak jalanan di daerah ini. Secara perekonomian, kalaupun tidak berlebih, setidaknya masyarakat ada dalam taraf cukup. Selain itu, meminta-minta dalam pandangan masyarakat bukanlah sesuatu yang terhormat. Lebih baik Anda melaut, berjualan kayu bakar, atau apapun selain jadi pengemis.

Tapi kenyataan hari itu menyuarakan fakta lain bagi saya. Bukan saja pengemis muncul, tapi nampaknya profesi ini cukup populer.

Ternyata keramaian tidak hanya menarik pedagang.

Perjalanan sehari itu membuat saya penasaran. Seperti apa wajah kota ini beberapa tahun mendatang?

Sidoarjo, 8 Januari 2014

Advertisements

One thought on “WBL: Sedikit Catatan Penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s