Posted in Daily Pieces

Suatu Hari Sabtu

Semalam saya sudah ingin sekali mengetik tulisan ini, tapi kalah dengan kantuk, ahaha.
So, here we go. Maafkan kalau saya jadi mendongeng pagi-pagi.

Kemarin adalah hari yang saya definisikan sebagai hari yang melelahkan namun membahagiakan.

Sepanjang ingatan saya, kemarin bisa jadi hari terpadat yang saya jalani selama beberapa bulan belakangan. Err..arti padat di sini adalah ada lebih dari dua agenda dalam sehari di luar jadwal kuliah.

Hari saya berawal jam tujuh pagi dengan suatu agenda pagi di daerah kampus, dilanjut ke kampus, nongkrong mengerjakan tugas di lab (orang). Setelah Dhuhur langsung pergi untuk menghadiri seminar yang, menurut brosur, ada di Jalan Mayangkara Surabaya. Sepenuh hati percaya pada Google Maps, saya meluncur ke lokasi.

Keluar dari jalan protokol, saya sempatkan mengecek HP untuk melihat jalur navigasi lagi. Saat itulah baru terbaca oleh saya SMS dari teman yang sama-sama janjian menghadiri seminar tersebut. Ternyata lokasinya di Jalan Taman Mayangkara, yang artinya saya harus putar balik hampir separuh jalan yang sudah saya tempuh dari kampus. Dengan hati setengah dongkol, putar baliklah saya.

Pelajaran moral nomor 1: memasukkan nama jalan di Google Maps tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik dibanding mencari nama gedung langsung.

Pelajaran moral nomor 2: wahai para event organizer, cantumkan alamat yang jelas dan BENAR! Itu fatal! Fatal!

Selesai seminar sudah sore, saya buru-buru pulang karena ba’da Maghrib sudah mengagendakan datang ke dua acara lagi: walimah seorang teman SMA rekan berjibaku di organisasi dulu dan syukuran pindah rumah sahabat saya sejak SMP. Dua-duanya saya rencanakan datangi dengan sahabat saya yang satu lagi, yang kebetulan baru selesai beraktivitas di tempat kerjanya setelah Maghrib. Jadilah, dia sampai ke rumah saya masih lengkap dengan seragam dinasnya dan tanpa ba-bi-bu, tanpa minum dulu, langsung berangkat lagi ke Sidoarjo.

Sampai di lokasi pertama, setelah menyapa Sang Mempelai dan foto-foto, kami baru ingat bahwa kami belum tahu alamat lengkap lokasi kedua. Alamat yang, konyolnya, tidak saya tanyakan sedari pagi padahal malam itu si empunya rumah pasti sedang repot menemani para tamu. Mengingat posisinya di daerah perumahan, tidak tahu blok mana nomor berapa bisa mengakibatkan efek samping amat tidak menyenangkan. Jadilah kami menunggu balasan dari pihak yang akan dituju sembari mengobrol dengan seorang teman SMA dan suaminya yang juga pengantin baru. #uhuk

Pelajaran moral nomor 3: suami-istri itu memang punya banyak kemiripan, termasuk sifat. Atau mungkin ujung-ujungnya mereka saling mempengaruhi. Terbukti.

Hampir putus asa karena balasan tak kunjung masuk dan hampir memutuskan untuk pulang saja, akhirnya alamat yang ditunggu-tunggu datang juga. Berangkatlah kami menembus malam, berboncengan berdua sambil mengobrol ini-itu di malam Minggu. Romantis sekali.

Sampai di jalan masuk utama menuju lokasi, kami melewati gedung yang sedang ramai dan ternyata, merupakan lokasi pernikahan salah seorang teman SMA juga. Mengingat waktu sudah cukup malam, kami putuskan untuk terus saja. *Happy Wedding, Devi. Maaf nggak mampir.

Petunjuk navigasi dari sahabat saya jelas: lurus saja hingga ketemu blok lokasi rumahnya. Maka kami melenggang dengan santai sambil menebak-nebak rumah seorang teman SMA (lagi) yang kami ingat ada di sekitar daerah itu. Tiba-tiba, jalan kami terhalang oleh sebuah hajatan. Dalam SMS-nya, sahabat saya memang sudah memperingatkan akan hal ini. Kami pun bersiap putar balik.

Saat itulah, sesosok laki-laki paruh baya berjalan ke arah mobil-mobil di dekat kami. Sepersekian detik saling memandang dengan Sang Bapak, dan sahabat saya menyapa pelan Bapak tersebut. Ternyata beliau adalah ayah teman SMA yang kami ingat-ingat lagi rumahnya tadi, dan ternyata hajatan tersebut adalah syukuran wisuda teman saya setelah sumpah dokter dan diwisuda. Untunglah sahabat saya masih mengingat wajah beliau.

Jadilah, di tengah jalan sebuah perumahan, malam-malam, kami reuni dengan teman lama kami. Saya sendiri terakhir kali bertemu dengannya enam tahun lalu, setelah lulus SMA. Sambil tertawa-tawa, saya merasa wow sekali. Hei, jika ini disebut kebetulan, maka buat saya ini adalah kebetulan yang luar biasa.

Setelah tukar nomor dan janji bertemu lagi, kami melanjutkan perjalanan dan (akhirnya) sampailah di rumah baru sahabat saya. Dan…kalian tahu perasaan yang kalian rasakan ketika orang yang kalian sayangi mendapatkan sesuatu yang membahagiakan?
Seperti itulah perasaan saya ketika melihat dia dan rumahnya.

Yah, karena hari sudah malam, kamipun tidak bisa berlama-lama. Kami pulang, dengan perasaan penuh dan masih tertawa mengingat betapa luar biasanya hari itu. =)

Sidoarjo, 28 September 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s