Posted in Daily Pieces, Random Thoughts

Suatu Kepingan

Buka dashboard blog dan sadar bahwa akhir-akhir ini sudah jarang sekali menulis. Karena sibuk sekolah? Ah, tidak juga. Banyak hal yang bisa, dan ingin, dituliskan sebenarnya. Hanya saja, akhir-akhir ini, seringkali ada semacam ketakutan, kekhawatiran, bahwa tulisan-tulisan di blog ini dapat disalahartikan. Bahwa cuplikan pikiran-pikiran random ternyata disangka hasil berpikir lama. Bahwa kata-kata yang ditujukan untuk umum, siapapun yang kebetulan membaca blog ini, atau bahkan yang sebenarnya untuk diri sendiri, dianggap ditujukan untuk orang tertentu.

Ya, kadang saya bisa jadi arogan sekali.

Tapi dipikir-pikir lagi, ini blog saya dan ketakutan semacam itu kadang terasa sangat tidak relevan. Menulis terasa jauh kurang menyenangkan ketika kita mengkhawatirkan terlalu banyak hal bahkan sebelum mulai mengeluarkan kata pertama dari pikiran.

Ah..kadang saya sungguh berharap agar manusia itu transparan. Pikirannya, perasaannya.
Rasa-rasanya, dengan begitu, banyak hal akan menjadi lebih sederhana.

Kita tidak perlu bertanya-tanya Si A kenapa, kita tidak perlu bersusah-payah panjang lebar menjelaskan sesuatu kepada Si B yang, sebenarnya, bermuara kepada satu kegelisahan saja.
Dan rasanya, perempuan lebih membutuhkan ini.

Makhluk yang aneh, ya, kita ini?
Ketika perasaan yang muncul sesama kita tak lagi bisa disebut empati. Ketika saya paham sepenuhnya sudut pandang seseorang bahkan tanpa bertukar pikiran. Hanya karena tulisan.
Karena kita sama-sama perempuan.

Karena rasa bahagia bagi kita selalu menyelipkan nyeri yang serupa.

Karena arti berharga untuk kita adalah sama, walau dalam dimensi berbeda.

Teruntuk seseorang,
yang saya yakin tidak begitu mengenal saya atau bahkan telah lupa nama,
yang punya begitu banyak kemiripan hingga kadang saya bertanya-tanya ini takdir atau benar kebetulan semata,
saya minta maaf.

Maaf karena hanya berani menyampaikan ini lewat kata-kata.
Maaf karena tahu, sungguh tahu, bahwa ini tidak akan merubah apa-apa.
Maaf karena, sejak awal, saya paham bahwa sangat mungkin jalan kita berlintasan dengan bumbu semacam ini.
Maaf karena saya sudah menyakiti, bahkan ketika kita tidak pernah lagi bertatap muka dan kamu tidak kenal saya.

Maaf, atas pilihan yang meski sering kali saya pertanyakan, tapi tidak pernah saya sesali.

Saya paham bahwa kamu cukup dewasa untuk menghadapi semua ini dan menyelesaikannya dengan caramu sendiri. Dan saya tidak akan, tidak bisa, ikut campur. Tapi justru itu yang kadang membuat saya menghela nafas berat. Kenyataan bahwa kamu begitu baik, dan saya, bisa jadi, sudah mengakibatkan sedikit nyeri. Atau mungkin banyak. Secara tidak langsung.

Saya pikir akan sangat menyenangkan jika kita bisa duduk berdua dan mengobrol, tentang apa saja. Saya selalu penasaran orang macam apa kamu sebenarnya.
Tapi seperti pertemuan pertama kita dulu, nampaknya kita akan lebih banyak diam berdua sambil menyesap minum masing-masing dan melempar pandang ke luar jendela, ahaha.

Saya selalu berharap yang terbaik untuk kamu. Untuk kalian.

Dan bisa jadi siapapun yang membaca ini akan berpikir kita sedang terlibat masalah cinta atau apa, ahaha. Biarlah.
Yang saya tahu, saya sudah ingin menulis ini sejak berbulan-bulan lalu. Sejak pertemuan pertama kita dulu. Sejak kamu membuat saya tertegun di suatu malam di tengah dinginnya Bandung.

Sidoarjo, 20 November 2014
Untuk dia, yang senyumnya semanis gula

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s