Posted in Books, Interesting Things

Max Havelaar: Potret Kelam Sebuah Kekuasaan

Max HavelaarMax Havelaar, buku karya Eduard Douwes Dekker atau dikenal juga dengan Multatuli, merupakan refleksi kondisi nyata penjajahan Belanda di Indonesia. Negara yang dulu dikenal dengan nama Hindia Belanda ini berada dalam kekuasaan Belanda selama 350 tahun. Sungguh bukan waktu yang singkat. Selama penjajahan itulah, penulis menghabiskan 18 tahun hidupnya sebagai pegawai pemerintah yang bersinggungan langsung dengan kondisi nyata di Hindia. Kondisi yang ia paparkan dalam bukunya.

Sangat menarik mengamati bagaimana penulis menghadirkan berbagai ironi dan kenyataan di lapangan melalui tokoh-tokohnya. Pada seratus halaman terakhir, misalnya, kita bisa melihat benturan kepentingan dan sudut pandang mengenai penjajahan Belanda di Hindia melalui tiga tokoh, yaitu Stern, Max sendiri, dan Tuan Droogstoppel.

Dalam komposisinya mengenai Max, Stern menyuarakan penentangan akan penjajahan dan kesewenang-wenangan pemerintah Belanda serta tokoh pemerintahan pribumi yang telah menjadikan rakyat Hindia menderita. Bagaimana harta milik pribadi dirampas seenaknya oleh penguasa, bagaimana rakyat hanyalah abdi yang harus menurut apa kata petingginya, bagaimana mereka tak berdaya bahkan untuk mempertahankan apa yang sebenarnya memang milik mereka.

Sedangkan Max Havelaar, sebagai tokoh sentral komposisi Stern, mewakili sudut pandang orang-orang yang seharusnya bisa berbuat sesuatu namun akhirnya tak berdaya. Tak berdaya karena harus melawan kerusakan yang telah begitu mengakar. Tak berdaya karena harus melawan pihak-pihak yang jauh lebih berkuasa dari dirinya sendiri.

Melalui Max, kita menangkap refleksi ketamakan dan kesewenang-wenangan tidak hanya pemerintah Belanda, namun juga penguasa pribumi sendiri. Tingginya standar hidup yang penguasa pribumi tetapkan atas diri mereka, telah membawa beban dan kesengsaraan kepada diri mereka sendiri, keluarga, dan terlebih rakyat mereka. Rakyat yang seharusnya mereka ayomi, namun justru pada praktiknya mereka bebani.

Melalui sudut pandang Max pula, kita melihat kenyataan yang tak asing bahwa pihak-pihak yang bisa melakukan kerusakan paling besar sejatinya justru adalah pihak-pihak yang, harusnya, bisa mengentaskan kerusakan itu. Pihak-pihak tersebut justru adalah pihak-pihak yang diserahi amanah dan kepercayaan untuk mengurus rakyat, yang pada akhirnya malah mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi. Terdengar familiar?

Namun sudut pandang paling menarik menurut saya adalah milik Tuan Droogstoppel. Dia, sebagai seseorang yang terhormat dan berada, seorang makelar kopi, mewakili kalangan orang-orang yang terlibat dalam praktik penjajahan, atau sang pembuat kerusakan sendiri. Sungguh menggelitik bahwa dia beranggapan, dengan keyakinan yang begitu kukuh, bahwa apa yang dituliskan oleh Sjaalman dalam paketnya semata-mata adalah kebohongan dan keluh-kesah seseorang yang tidak bersyukur. Tuan Droogstoppel beranggapan bahwa pemerintahan Belanda di Hindia tidak mungkin seburuk itu hingga membuat rakyat menderita bahkan mati. Bahwa tak mungkin, orang-orang terhormat yang ia temui di kehidupan sehari-hari, para mantan residen dan pegawai pemerintahan di Hindia, telah melakukan dan membiarkan pemerasan terhadap rakyat. Dia percaya, tentu, bahwa apapun yang didapatkan oleh orang-orang tersebut, kekayaan melimpah dan berbagai hasil bumi, didapatkan karena kerja keras mereka. Bahwa apapun yang diberikan oleh rakyat kepada mereka semata-mata merupakan tanda hormat dan kasih sayang.

Saya mengutip sedikit bagian yang menurut saya sangat menarik, sekaligus ironis.
Mereka mengatakan bahwa luas tempat kediaman mereka di dekat Driebergen itu tidak ada setengahnya jika dibandingkan dengan apa yang mereka sebut “pekarangan” di pedalaman Jawa, yang memerlukan seratus orang untuk merawatnya. Namun–dan ini bukti betapa mereka disukai–semua perawatan itu dilakukan tanpa bayaran dan murni karena keakraban.

Tuan Droogstoppel yang terhormat beranggapan bahwa apapun yang dilakukan rakyat Hindia dan apapun yang diperoleh Belanda dari sana, adalah suatu kewajaran. Dia berpikir bahwa kemakmuran yang diperoleh Belanda dari Hindia merupakan hadiah Tuhan kepada negeri tersebut. Bahwa penderitaan rakyat Hindia, kondisi Sjaalman yang menyedihkan, dan segala bentuk derita yang dituliskan dalam paket Sjaalman, adalah hukuman Tuhan kepada mereka karena mereka malas, tidak bersyukur, dan tidak mempercayai Tuhan.

Buku ini adalah refleksi nyata mengenai kekuasaan yang salah arah dan salah kaprah. Mengenai kepercayaan yang disalahgunakan, mengenai potensi kebaikan yang dibunuh pelan-pelan.
Dan meski kolonialisme tak lagi mendapat ruang di antara bangsa-bangsa saat ini, namun masih kita dapati penjajahan dalam bentuk-bentuk lain yang menyebar luas. Dan di sana akan selalu ada orang-orang seperti Stern, Max, dan Tuan Droogstoppel.

Sidoarjo, 27 Juni 2015

Advertisements

3 thoughts on “Max Havelaar: Potret Kelam Sebuah Kekuasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s