Posted in Daily Pieces

Karya

Dinukil dari Lapis-lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah, halm. 284-286

Apa yang hendak kita sombongkan, jika Imam An-Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya sejilid pun kitab Shahih Muslim? Hanyasanya beliau menulisnya berdasar hafalan atas kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti adalah perawi yang menyampaikan hadits antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan yakni mata-rantai periwayatan dari An-Nawawi hingga Imam Muslim. Jadi kita dapat membayangkan; ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 5.362 hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim dengan sekira 9-13 tingkat gurunya; ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 mata rantai rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran yang beliau anggit disertai perbandingan dengan hadits dari kitab yang lain, yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya, penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, tabi’in, dan ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum fiqh yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya. Hari ini kita jemawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, dan tak malu-malu sedikit-sedikit bertanya pada mesin pencari.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karya dari satu orang ini yang jangan-jangan hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana pula para ulama lain yang kedahsyatan warisannya dan upayanya menyusun karya bahkan lebih dahsyat dari Imam An-Nawawi?

Bagaimana kita mengerti kepayahan seorang penyusun kitab Musnad, Sunan, Thabaqah, atau Jami’ush Shahih pada zaman yang untuk mendapat satu hadits saja para muallifnya harus berjalan berbulan-bulan? Bagaimana kita mencerna, bahwa dari nyaris satu juta hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidupnya; Al-Bukhari memilih sekira 7.008 saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi misalnya; tidakkah kita renungi, bahwa hampir pasti semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sepadat itu?

Masih belum terbayang bagi kita, bagaimana Ibn ‘Aqil Al-Hanafi menyusun kitab Al-Funun yang terdiri atas 800 jlid berisi aneka ragam ilmu dengan pembahasan yang dipuji ‘tiada bandingnya’ oleh sang ahli hadits agung Imam Adz-Dzahabi. Masih sukar kita terima, bagaimana Al-Hafizh Ibn ‘Asakir berhasil menyusun ke-83 jilid kitab sejarah Tarikh Dimasyq sementara beliau sibuk pula menelaah berbagai hadits. Masih berat mengira-ira, bagaimana Imam ibn Jarir Ath-Thabary setiap harinya menulis sebanyak 40 halaman selama 40 tahun, hingga keseluruhan karyanya mencapai 358.000 lembar. Bagaimana pula rautan pena Imam Ibn Al-Jauzy terkumpul begitu banyak, hingga cukup untuk menjadi kayu bakar memanasi air bagi pemandian jenazahnya?

Detak-detik macam apakah yang lapis-lapis berkahnya setebal itu?

Kita baru melihat satu sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah dan berhias luka di medan jihad. Bagaimanakah Ibn Al-Mubarak membagi tahun-tahunnya menjadi tiga; sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk jihad, dan sepertiga untuk berniaga. Bagaimanakah Ibn Taimiyah melalui hidupnya antara garis depan perang melawan Tartar, mengajar, dan tinggal di penjara Sultan. Begitulah, acap kali mereka juga harus berhadapan dengan penguasa zhalim dan siksaan pedihnya, sejawat yang dengki dan gangguan kejinya, serta para awam yang tak faham dan kadang lebih kejam.

Kita mengeluh atas listrik yang mati atau data terhapus; Imam Asy-Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dan dipaksa berjalan terantai dari Shan’a menuju Baghdad. Kita menyedihkan komputer jinjing yang tetiba mengadat dan batas waktu penulisan yang gawat; sedang punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi dan petang hanya karena satu kalimat. Kita berduka atas gagal terbitnya suatu karya; padahal Imam Al-Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan-tulisannya hingga menjelang ajal, agar dirinya terhindar dari puja.

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sedahsyat itu?

Mari kembali pada Imam An-Nawawi yang wafat di usia 45, dan tak usah bicara tentang Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab-nya yang dahsyat dan Riyadush Shalihin-nya yang jelita. Mari perhatikan saja karya tipisnya; Al-Arba’in An-Nawawiyah. Betapa dalam 42 hadits yang dipilih dengan cermat itu ada lapis-lapis keberkahan yang melampaui segala hitungan. Ia disyarah beratus kali, dihafal berlaksa akal hati, dikaji berjuta manusia, dan tetap menakjubkan susunannya.

Maka tiap kali kita bangga dengan “bestseller“, “nomor satu”, “juara”, “dahsyat”, dan “terhebat”; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja. Agar kita tahu, bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, dan bukan siapa-siapa.
Lalu tak henti belajar, berkarya, dan bersahaja.

Surabaya, 22 Januari 2016

Advertisements

One thought on “Karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s