Posted in Daily Pieces, Random Thoughts

Taiwan 101 #2 Lebaran Yang Tak Biasa

Lebaran tahun ini bisa dibilang Lebaran yang paling tidak terasa Lebaran.

Lebaran kedua di Taiwan, ekspektasi awalnya adalah sama seperti Lebaran tahun sebelumnya. Shalat Id di Taipei Grand Mosque, lalu ke KDEI untuk silaturahim dan makan-makan masakan Indonesia. Qadarullah, Si Kecil jatuh sakit di hari terakhir Ramadhan. Sudahlah, bubar jalan rencana Lebaran kami.

Tak ada shalat Id karena saya stay di rumah bersama Naya, hanya suami yang berangkat ke TGM. Tak ada kumpul-kumpul salam-salaman setelah shalat. Pun tak ada makan opor pengobat rindu rumah. Jangan tanya mudik, arisan keluarga, atau makanan beraneka rupa yang setia menemani jika Idul Fitri di Indonesia. Sudah kami ikhlaskan sejak berangkat ke Taiwan. Walau kadang masih ngenes juga saat melihat foto-foto yang berseliweran di media sosial. #curhat

Di tengah semua kondisi tersebut, saya menyadari satu hal. Bahwa banyak sekali makna yang terangkum dalam sebuah kata Idul Fitri. Hal-hal yang sadar ataupun tidak, sering kita anggap begitu wajar terjadi. Taken for granted. Hal-hal seperti kesempatan untuk mudik, berkumpul dengan keluarga, dan makan makanan aneka rasa, bisa jadi kita sadari sungguh berharga tanpa harus jauh-jauh merantau atau tinggal di luar Indonesia. Tapi sejatinya, kesempatan sederhana untuk shalat Idul Fitri sendiri ternyata satu hal yang amat patut kita syukuri. Betapa banyak kemudahan yang Allah berikan setiap tahunnya bagi kita untuk melaksanakan shalat Id, dengan nyaman, dengan tentram, dengan tenang. Dan betapa banyak sesungguhnya saudara-saudara kita yang tidak bisa merasakan nikmat shalat hari raya ini karena berbagai alasan. Maka sungguh, alangkah sayangnya jika perayaan Idul Fitri sangat kita rindukan tanpa kita mampu menghadirkan ketundukan yang dalam di setiap sujud dan takbir shalat Id kita. Karena inilah perayaan yang sesungguhnya: bahwa Allah telah mengamanahkan iman dan Islam sehingga kita hari ini, pada saat ini, bisa bersujud pada-Nya, mengagungkan nama-Nya bersama saudara-saudara kita dalam hikmah hari raya.

Sambil menggendong Naya yang demam tinggi, saya berterima kasih. Mungkin Allah ingin saya merasakan Lebaran yang tak biasa kali ini, agar saya belajar kembali apa arti Idul Fitri.

 

 

Taipei, 18 Juni 2018

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s