Posted in Daily Pieces

Taiwan 101 #3 I’m So Powerless

Tulisan kali ini disponsori oleh IG story-nya Ana.

Membaca ini dan entah kenapa teringat awal-awal tinggal di Taiwan. Sebelum berangkat, saya merasa cukup percaya diri tentang bahasa. Saya pikir, bahasa Inggris saya nggak jelek-jelek amat dan selama ini saya cukup cepat dalam belajar bahasa. Seiring berjalannya waktu, saya bisa belajar bahasa lokal. Bisa lah, ya, survive di sana. Setelah sampai di Taiwan, hahaha…realita ternyata sungguh berbeda.

Bulan-bulan awal di Taiwan, saya masih cukup cuek. Tanpa paham bahasa Cina apapun kecuali ni hao dan xie xie, saya bisa survive. Hidup saya baik-baik saja.

Hingga suatu ketika saya menghadiri acara di Taipei Main Station (TMS). Tiba waktu shalat, saya pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Waktu itu kamar mandi sedang ramai sekali, sampai ada antrian cukup panjang untuk masuk. Tiba giliran saya, saya langsung menuju wastafel. Di tengah-tengah wudhu, tiba-tiba ibu-ibu bagian kebersihan masuk, melihat saya, dan langsung ngomel-ngomel dalam bahasa Cina yang seratus persen saya nggak paham artinya apa. Yang pasti dia nggak bilang ni hao dan xie xie.

Pada saat itu, saya cuma bisa terdiam, buru-buru menyelesaikan wudhu kemudian ngeloyor pergi setelah mengucapkan I’m sorry setengah hati.

Beberapa waktu kemudian saya mulai sekolah bahasa dan pikiran awal saya tentang belajar bahasa Cina sungguh salah luar bisa, saudara-saudaraa. FYI, di Taiwan pakainya bahasa Cina tradisional, bukan bahasa Cina simplified seperti yang digunakan di RRC.

Hilanglah sudah kepercayaan diri saya begitu menghadapi karakter-karakter berliuk-liuk yang harus saya pahami dan hafalkan cara membaca, menulis, dan nada bicaranya. Iya, nada bicara, karena karakter bahasa Cina beda intonasi bisa berbeda arti.

Hubungannya apa dengan gambar di atas?

Percayalah, seberapa banyak pun kau tahu sesuatu, ada jauh lebih banyak hal yang kau tak tahu.
Seberapa banyak pun kau belajar, akan selalu ada hal baru yang harus kau pelajari.

Hubungannya lagi dengan cerita di awal adalah, selama enam bulan saya sekolah bahasa, tiap kali saya merasa putus asa dan stres belajar, saya ingat-ingat lagi saja kejadian di TMS itu. Lalu saya bilang kepada diri saya sendiri, “Bertahanlah, Dina. Kamu bisa.”

We all need a little push, right?

 

 

Taipei, 13 Juli 2018

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s